Kamis, 15 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret

Hidup tanpa asa, mati pun tak kuasa. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk saya; seseorang yang hidup, tetapi seperti mati. Bertahun-tahun sengsara akibat perbuatan sendiri. Berkali-kali masuk rumah sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Berjuta-juta uang melayang tanpa saya sadari.
Tersiksa. Itulah yang saya rasa. Saat malam tak bisa pejamkan mata. Makan pun tak pernah berselera. Semua ini karena kebiasaan bodoh saya di masa muda. Menyesal? Tentu saja. Menyalahkan orang lain? Tidak, itu perbuatan sia-sia. Ini memang salah saya.
Mungkin kalian bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Baiklah, akan saya ceritakan. Saya sangat mencintai benda berukuran 9 cm yang disebut rokok. Berawal dari coba-coba saat masih SMA, hingga akhirnya selama puluhan tahun saya tidak bisa jauh darinya. Pagi, siang, dan malam, saya selalu bersamanya. Sebiji, dua biji, hingga tiga bungkus bisa saya habiskan dalam sehari.
Saya tahu rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan di kemasannya sudah tertera peringatan: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Bahkan yang terbaru muncul peringatan: ROKOK MEMBUNUHMU. Tetapi saya tidak peduli. Saya begitu terlena karena kenikmatannya. Hampa rasanya jika tak menghisapnya sejam saja. Gila. Saya benar-benar gila dibuatnya.

Keluarga saya sudah sering memperingatkan. Terutama istri saya. Dia sangat khawatir kalau nantinya saya akan sakit karena mengkonsumsi rokok secara berlebihan. Dia juga khawatir terhadap kesehatannya dan kesehatan anak perempuan kami karena setiap hari mereka menghirup asap rokok. Saya memang menyayangi mereka. Tetapi jika mereka meminta saya untuk menjauhi rokok, saya tidak bisa menurutinya. Rokok telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup saya.
Hingga akhirnya tragedi mengerikan itu terjadi. Secara tiba-tiba anak saya mengalami batuk tanpa henti selama berhari-hari. Tak jarang batuk itu disertai sesak nafas. Saat dibawa ke rumah sakit, ternyata dia terkena penyakit Bronchopneumonia Duplex, yaitu infeksi akut pada paru-paru. Kondisi tubuhnya semakin melemah karena berkurangnya suplai oksigen ke dalam darahnya. Kata dokter, penyakit ini muncul karena dia terlalu sering menghirup asap rokok.
Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, dia pun meninggal dunia. Dia meninggal karena menjadi perokok pasif. Saya penyebabnya. Saya yang menyebabkan dia sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Semua anggota keluarga membenci saya. Mereka pun memutuskan untuk tidak peduli pada saya lagi. Bahkan istri saya menceraikan saya dan meninggalkan saya seorang diri. Saya pun hidup sebatang kara bertahun-tahun lamanya. Sengsara? Tak usah ditanyakan. Terkadang rasanya saya ingin bunuh diri karena sudah bosan berteman dengan kesendirian dan penderitaan.
Saya stres. Saya depresi. Hanya rokok yang bisa saya jadikan kawan dan pelampiasan. Semakin stres, semakin banyak rokok yang saya hisap. Setiap hari. Tanpa henti. Hingga akhirnya tragedi mengerikan terjadi lagi.
Setahun yang lalu, saya divonis menderita penyakit kanker paru-paru. Dada saya sesak, sering batuk berdarah, tulang terasa nyeri, dan kepala saya terasa sakit luar biasa. Tubuh saya pun melemah setiap harinya.
Selama setahun, rumah sakit telah menjadi rumah kedua saya. Berkali-kali saya dirawat inap. Berbagai jenis obat-obatan telah saya konsumsi. Tetapi saya tak kunjung membaik.
Wajah saya terlihat mengerikan. Badan saya kering kerontang. Jika orang-orang melihat saya, mereka pasti akan ketakutan. Saya sendiri selalu bergidik ngeri saat bercermin. Saya benar-benar terlihat seperti zombi. Kalian boleh memanggil saya zombigaret. Ya, saya menjadi zombi karena sigaret.
Saat ini saya tergeletak tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan berbagai jenis selang yang menempel di tubuh saya. Kemarin sempat saya dengar dokter berbisik kepada suster. Katanya, waktu saya sudah tidak lama lagi. Oleh karena itu, saya menyempatkan menulis ini untuk kalian sebagai peringatan.
Cukup saya yang menjadi zombigaret. Janganlah kalian dekati rokok karena rokok dapat merenggut kebahagiaan kalian. Rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif, tetapi juga sangat berbahaya bagi perokok pasif. Jagalah diri dan kerabat kalian dengan menjauhi rokok!


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"
Jumlah kata : 599 kata
Gambar ilustrasi adalah milik saya pribadi
 
sumber : hynasaurus.blogspot.com/2014/04/diary-sang-zombigaret_19.html

Rabu, 14 Mei 2014

Diary Sang Zombigaret

Hidup tanpa asa, mati pun tak kuasa. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk saya; seseorang yang hidup, tetapi seperti mati. Bertahun-tahun sengsara akibat perbuatan sendiri. Berkali-kali masuk rumah sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Berjuta-juta uang melayang tanpa saya sadari.
Tersiksa. Itulah yang saya rasa. Saat malam tak bisa pejamkan mata. Makan pun tak pernah berselera. Semua ini karena kebiasaan bodoh saya di masa muda. Menyesal? Tentu saja. Menyalahkan orang lain? Tidak, itu perbuatan sia-sia. Ini memang salah saya.
Mungkin kalian bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Baiklah, akan saya ceritakan. Saya sangat mencintai benda berukuran 9 cm yang disebut rokok. Berawal dari coba-coba saat masih SMA, hingga akhirnya selama puluhan tahun saya tidak bisa jauh darinya. Pagi, siang, dan malam, saya selalu bersamanya. Sebiji, dua biji, hingga tiga bungkus bisa saya habiskan dalam sehari.
Saya tahu rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan di kemasannya sudah tertera peringatan: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Bahkan yang terbaru muncul peringatan: ROKOK MEMBUNUHMU. Tetapi saya tidak peduli. Saya begitu terlena karena kenikmatannya. Hampa rasanya jika tak menghisapnya sejam saja. Gila. Saya benar-benar gila dibuatnya.

Keluarga saya sudah sering memperingatkan. Terutama istri saya. Dia sangat khawatir kalau nantinya saya akan sakit karena mengkonsumsi rokok secara berlebihan. Dia juga khawatir terhadap kesehatannya dan kesehatan anak perempuan kami karena setiap hari mereka menghirup asap rokok. Saya memang menyayangi mereka. Tetapi jika mereka meminta saya untuk menjauhi rokok, saya tidak bisa menurutinya. Rokok telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup saya.
Hingga akhirnya tragedi mengerikan itu terjadi. Secara tiba-tiba anak saya mengalami batuk tanpa henti selama berhari-hari. Tak jarang batuk itu disertai sesak nafas. Saat dibawa ke rumah sakit, ternyata dia terkena penyakit Bronchopneumonia Duplex, yaitu infeksi akut pada paru-paru. Kondisi tubuhnya semakin melemah karena berkurangnya suplai oksigen ke dalam darahnya. Kata dokter, penyakit ini muncul karena dia terlalu sering menghirup asap rokok.
Seminggu setelah dirawat di rumah sakit, dia pun meninggal dunia. Dia meninggal karena menjadi perokok pasif. Saya penyebabnya. Saya yang menyebabkan dia sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Semua anggota keluarga membenci saya. Mereka pun memutuskan untuk tidak peduli pada saya lagi. Bahkan istri saya menceraikan saya dan meninggalkan saya seorang diri. Saya pun hidup sebatang kara bertahun-tahun lamanya. Sengsara? Tak usah ditanyakan. Terkadang rasanya saya ingin bunuh diri karena sudah bosan berteman dengan kesendirian dan penderitaan.
Saya stres. Saya depresi. Hanya rokok yang bisa saya jadikan kawan dan pelampiasan. Semakin stres, semakin banyak rokok yang saya hisap. Setiap hari. Tanpa henti. Hingga akhirnya tragedi mengerikan terjadi lagi.
Setahun yang lalu, saya divonis menderita penyakit kanker paru-paru. Dada saya sesak, sering batuk berdarah, tulang terasa nyeri, dan kepala saya terasa sakit luar biasa. Tubuh saya pun melemah setiap harinya.
Selama setahun, rumah sakit telah menjadi rumah kedua saya. Berkali-kali saya dirawat inap. Berbagai jenis obat-obatan telah saya konsumsi. Tetapi saya tak kunjung membaik.
Wajah saya terlihat mengerikan. Badan saya kering kerontang. Jika orang-orang melihat saya, mereka pasti akan ketakutan. Saya sendiri selalu bergidik ngeri saat bercermin. Saya benar-benar terlihat seperti zombi. Kalian boleh memanggil saya zombigaret. Ya, saya menjadi zombi karena sigaret.
Saat ini saya tergeletak tak berdaya di atas kasur rumah sakit dengan berbagai jenis selang yang menempel di tubuh saya. Kemarin sempat saya dengar dokter berbisik kepada suster. Katanya, waktu saya sudah tidak lama lagi. Oleh karena itu, saya menyempatkan menulis ini untuk kalian sebagai peringatan.
Cukup saya yang menjadi zombigaret. Janganlah kalian dekati rokok karena rokok dapat merenggut kebahagiaan kalian. Rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif, tetapi juga sangat berbahaya bagi perokok pasif. Jagalah diri dan kerabat kalian dengan menjauhi rokok!


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis "Diary Sang Zombigaret"
Jumlah kata : 599 kata
Gambar ilustrasi adalah milik saya pribadi
sumber: http://dhynasaurus.blogspot.com/2014/04/diary-sang-zombigaret_19.html

Diary Sang Zombigaret : Sesalku Si Ahli Hisap

Dulu setiap waktu, tak pernah ku lewatkan hari-hariku dengan kekasih hatiku si Garet yang menurutku lebih lezat dari apapun. Lebih berharga dari hidupku, lebih aku sanjung melebihi kekasihku .  Setiap hembusan asap yang keluar dari sebatang garet itu seperti menjadi suapan nutrisi untukku. Sampai-sampai semua temanku menyebutku si Ahli Hisap.

Karena setiap detik waktu yang kulakukan selalu bersamanya, menghisapnya dengan penuh kenikmatan, menghembuskannya dengan penuh nafsu. Oh aku sungguh tidak sanggup hidup tanpanya. Bila tak aku hisap sedetik saja asap-asap dari Garet itu, tubuhku terasa lesu dan kelu. Hatiku sesak dan marah. Mulutku terasa pahit, sangat merindukan dirinya yang begitu manis melebihi gula bagiku. Setiap ada saudara atau teman mengingatkanku akan efek buruknya barang itu, aku hanya berkata halahhhh....nyatanya aku RAPOPO. 
Kalian tidak mengerti bagaimana hubunganku dengannya, di saat aku sedih dia selalu ada, di saat aku bahagia dia selalu ada. Walaupun aku harus kerja siang dan malam, tak mengapa asal aku bisa membelinya dan merasakan sensasi asap-asap yang keluar dari setiap celah tembakaunya, yang berhembus melewati mulut, dan merasuk ke rongga-rongga dadaku. Walaupun sesak tapi semua terasa nikmat bagiku.
Kini setelah waktu berlalu, lama kelamaan dadaku semakin sesak dan sakit luar biasa, tubuhku lunglai, tubuhku seperti mayat hidup, seperti Zombi, kurus dan pucat,  setiap aku batuk, darah segar mengalir dari mulutku. Kanker paru-paru telah menggerogotiku, barang yang aku puja dan aku paling cinta ternyata menusukku, menyakitiku, dan mendekatkanku dengan kematian.
Penyesalan sudah tak berguna lagi, kini untuk dudukpun aku tak mampu, tubuhku seperti Zombi yang tidak pernah makan, kurus kering kerontang tak bersisa daging disana, hanya kulit dan tulang-tulangku. Tak bisa lagi aku membanggakan diri dengan berkata RAPOPO pada saudara dan teman-temanku karena kebiasaanku. Kini aku hanya bisa berkata "AKU SEKARAT...!!!!". Dan mungkin kini si Garet penghianat itu menertawakanku dalam kesakitanku.

Gambar pinjam dari google
Kini aku meminta kepadamu, Jangan !, jangan sekali kali kau sekali-kali menyentuh barang haram yang bernama Garet itu, dia hanya candu manis yang mengkhianatimu. Seperti saat ini dia mengkhianatiku, meninggalkan derita yang entah kapan bisa berakhir dan berujung...!
Memberiku kenang-kenangan pahit yang lebih pahit dari empedu, kenangan kesakitan yang sakitnya menggerogotiku sampai nadi-nadiku, kenangan yang merupakan mimpi buruk yang menghantuiku setiap detik waktuku. Bayang-bayaung kematian selalu membayangiku. Kesakitan yang sangat menderaku, selang-selang yang dipasang para Dokter dan Perawat itu , dan obat-obat serta injeksi yang diberikan kepadaku seakan hanya meringankan deritaku hanya sesaat saja. Karena terus saja rasa sakit yang menghujam dadaku dan nafas sesak yang seakan oksigen enggan bersahabat denganku. Hanya bila selang-selang oksigen di masukkan di hidungku dan masker oksigen diletakkan dimulutku, dadaku terasa lega sesaat.

Penyesalan tinggal penyesalan,  penyesalan yang sangat dalam dariku, si Ahli Hisap yang dulu bangga dengan julukan itu. Tapi kini aku hanya menunggu hidupku berakhir dan bertemu Sang Ahli Hisab Amal kebaikan yang seseungguhnya. Si Zombigaretlah sekarang julukan yang pantas untukku yang kini memang hidup seperti Zombi, yang hidup enggan mati tak mau, yang tinggal tulang belulang berbalut kulit dan bermuka pucat tanpa tenaga.

Sesal sesal dan sesal, jika kamu semua membaca didiaryku ini, bisa kau jadikan pembelajaran untuk terus menjadi Ahli Hisap Garet sepertiku atau meninggalkannya dan menjadi manusia sehat dan hidup bahagia dalam kesehatan yang begitu sangat berharga...!
 
sumber: http://lavendergrass.blogspot.com/2014/04/diary-sang-zombigaret-sesalku-si-ahli.html

Diary Sang Zombigaret : Kepergian Mas Gery




Semenjak kepergian mas Gery keluar kota, hingga saat ini belum ada sedikitpun kabar darinya. Tak jarang prasangka buruk tentangnya datang menghampiriku, namun prasangka-prasangka itu coba ku tepis dengan melakukan banyak kegiatan diluar pekerjaanku sebagai journalis.

Berhubung Selly (anakku) sedang tertidur, aku berinisiatif untuk membersihkan rumah. Mulai dari ruang tamu, dapur hingga kamar kerja suamiku! Rasa sedih pun melanda, aku teringat akan kenanganku bersama mas Gery. Mas Gery sangat suka menulis, hari-harinya pun dihabiskan untuk menulis dikamar ini.
Sembari membersihkan meja kerjanya, tanpa sengaja aku mendapati sebuah buku Diary miliknya. Karena penasaran jadi kuputuskan untuk membacanya..

“Diary Sang Zombigaret”

Sulit rasanya mempercayai takdir yang aku alami saat ini, Di diagnosa kanker paru oleh dokter sempat membuatku putus asa dan ingin mengakhiri saja hidup ini.

-23 Desember 2003-
Hari ini aku akan menjalani pemeriksaan lanjutan yang ke-4 untuk menentukan seberapa parahnya kanker paru yang ku alami. Mulai dari CT-Scan, MRI, PET Scan tulang hingga melakukan pemeriksaan tes CEA, SCC dan Cyfra 21-1 guna menunjang diagnosis sebelumnya.

Setelah melakukan semua pemeriksaan hasilnya tetap saja Nihil, penumpukan cairan didada (Efusi Pleura) dan penyebaran kanker pada organ tubuhku yang lain nampaknya semakin parah saja.

-26 Desember 2003-
Tanpa sadar aku terpingsan dirumah saat hendak menuju ke rumah sakit, Itriku yang kala itu belum berangkat kerja, dengan bergegas melarikan aku ke rumah sakit terdekat. 4 jam aku tak sadarkan diri hingga akhirnya siuman, Istriku yang setia menemani disampingku tampak sangat cemas, Ia begitu prihatin akan kondisiku saat itu.

-30 Desembar 2003-
5 hari setelah di rumah sakit, aku diijinkan dokter untu beristirahat dirumah, namun aku tak boleh melakukan banyak kegiatan.

Rena istri yang aku nikahi 2 tahun silam, sama sekali tidak mengetahui akan penyakitku ini. Akupun tak berniat untuk memberitahukan padanya!

Entah mengapa setiap pagi sehabis bangun tidur  aku jadi sering batuk, tak jarang batuk yang kualami ini mengeluarkan darah. Aku semakin tidak bergairah, nafsu makanpun berkurang karena tenggorokkanku sering sakit saat menelan makanan. Kejadian ini terus berlanjut mengakibatkan berat badanku menurun.
Akupun pergi pada dokter yang biasa menanganiku, Ia sangat terkejut dengan perubahan fisikku yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Ia memeriksa semua organ-organ tubuhku, apakah masih berfungsi dengan normal? “Ternyata tidak”

Dokter menganjurkan agar aku secepatnya melakukan tindakan medis yakni Operasi disalah satu rumah sakit ternama yang letaknya berada diluar kota.

Berbagai alasan kuberikan pada istriku agar ia mengijinkan aku untuk keluar kota! Mulai dari mengurusi klien hingga perjalanan dinas, Semua itu aku lakukan agar seolah-olah tidak terjadi apa-apa denganku.

Hari berganti hari hingga dimana waktu yang ditunggu akan tiba…

Besok tepat tanggal 16 Januari 2004 adalah hari yang sangat mendebarkan buatku. Sambil memandangi wajah istriku yang sedang tertidur pulas, Aku menuliskan secarik surat kecil untuknya.

Dear_Rena

Semuanya terasa begitu berati kala kujalani hari-hariku bersamamu..
Aku sangat merasa berdosa karena tak jujur padamu sayang..

Sungguh semua ini aku lakukan karena tak ingin engkau khawatir dan mengganggu kesehatanmu dan buah hati kita..

Jika esok engkau tidak mendapatiku saat terbangun nanti, Ketahuilah aku pergi takkan lama..
Jaga dirmu dan buah hati kita sayang..

-Gery-

Mamiii….mamiii dimana? “tangisan Selly (anakku) yang terbangun menghentikan kegiatanku.

Mami disini sayang.. “sahutku dari dalam kamar”

Kamu dengar suara anak kita kan mas?

Selly kini telah tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar! Selly juga suka menulis, sama sepertimu mas…
Cepatlah pulang, Aku dan Selly sangat merindukanmu..
“Emmmuuuaaaccchh” Kataku sambil mengecup Diary milik mas Gery…

-THE END-